Postingan

Tentang Rindu

Aku masih rindu, tak peduli kau mau berkata apa. Aku hanya rindu. Cukuplah bagiku mengingat wajahmu yang manis itu. Yang kuinginkan bukan hanya sekedar bertemu. Tapi yang kuinginkan adalah semua cerita tentang dirimu. Entah kau akan mau mendengarkan ceritaku atau tidak. Yang jelas aku ingin mendengarkan kisahmu. Aku akan setia duduk disini menantimu, untuk bercerita. Entah sampai kapan tiba waktu untuk kita. Jika memang takdir tidak mempertemukan kita kembali, yasudah. Mungkin sudah digariskan seperti ini jalannya. Tidak, aku tidak menangis. Aku akan tetap tersenyum meskipun kamu sudah lupa dan menghapus kenangan yang pernah kita lewati bersama. Roda selalu berputar, aku yakin itu. Aku tidak punya hak lagi, silahkan kamu keluar dan membuka hati untuk orang lain. Aku pun juga begitu, tapi untuk saat ini. Pintu ini masih tertutup rapat dan belum siap untuk dibuka kembali. Tapi yang jelas, aku rindu,  dan masih rindu padamu.

Feels

‌Yah namanya hidup, pasti roda berputar. Mungkin sekarang ini kehidupan gue berada di roda paling bawah. Bukan masalah keuangan, tapi dalam masalah kebahagiaan gue itu sendiri. Mungkin gue sedang diuji atau kesabaran gue sedang diasah. Atau mungkin Allah pengen gue lebih dekat dengan Dia ya? Mau nangis rasanya kalau diinget. Kelam hitam. Itulah yang gue rasa saat ini. Atau mungkin gue kurang bersyukur. Kemungkinannya 50:50. Bertemu dengan cinta yang salah. Karena senang sesaat, sesal yang gue rasa setelahnya. Kemudian, cinta yang lama bukan bersemi kembali, tapi kata kasarnya adalah tidak dianggap, bahkan gue disalahkan kenapa cinta yang dulu pernah kandas? Entahlah, atau gue memang selalu salah dalam menjalin hubungan. Memangnya gue mau seperti ini? Memangnya gue senang menjalin cinta yang tiba-tiba akhirnya kandas di tengah jalan? APA GUE SENANG? MANA ADA!? YANG TAU JAWABANNYA CUMA TUHAN SEMATA. Karena gue yang punya hati pun gatau apa yang gue rasa saat ini, cuma kesedihan berkepanj...

Unwritten

Purnama pertama kali. Hangatnya sinar itu walaupun angin kala itu sedang tak bersahabat dengan kita. Sempurnalah malam yang kita lewati. Merona merah pipiku, dan manisnya ucapan yang keluar dari bibirmu seakan tak mau keluar dari pikiranku. Purnama kedua, ketiga, dan seterusnya pun sama. Cintaku yang makin besar padamu, hingga akhirnya kau pergi, tapi rasa cintaku padamu tetap sama. Tetap hangat di sini. Bukan hanya saat purnama pertama kali yang ku rindukan, tapi senyummu. Juga tawamu, bahkan pujian kecil darimu. Engkau dimana, aku dimana.Tapi kita tetap di satu purnama. Semoga kelak kita dipertemukan lagi. Walaupun aku tak tau apakah akan terjadi, aku akan selalu berharap, sampai aku kehabisan harapan. Tak apa kau menghilang, tak apa kau tak mengingatku lagi, tak apa ku sendiri. Asalkan aku masih punya kenangan bersamamu, bagiku cukup. Aku bersyukur, karena telah bertemu seseorang yang sangat hebat dalam hidupku. Jakarta, 7 Mei 2016

Jarak

Jarak? Sesuatu yang tak asing lagi bagiku. Terpisah karena jarak, karena waktu yang membuat kita tak bisa berjumpa. Memang sesuatu yang menyakitkan, rasanya semakin hampa. Rasa sepi semakin merasuk, bayangan kesendirian semakin menjelma. Hujan kerinduan semakin lebat. Aku dimana engkau dimana. Ku minum pahitnya kopi ini, tak apa. Asal kenanganmu tak menghilang dari ingatanku. Asaku semakin pudar tentang dirimu. Ingin ku tunggu dirimu, tapi ragu. Apa kau masih punya rasa yang sama denganku? Kalo tidak, ya aku tidak memaksa. Kau boleh dengan siapa saja. Kau boleh menyimpan hatimu untuk seseorang yang tepat nanti. Jarak, entah sampai kapan waktuku tiba. Baik-baik ya dirimu. Salam hangat dariku, untukmu yang telah terpisah oleh jarak.

Absurd

Oke, hari ini gue menulis sesuai dengan isi hati gue, otak gue hanya menjalankannya cuma 1,99%. Dan memang gue gabisa mikir lagi, setelah dari pagi kerja dan malam ini baru pulang karena abis main taunya dikerokin juga sama satu temen kerja yang alhamdulillah baik dan perhatian (bukan cowok kok kak) Satu, yang pertama. Perasaan gue campur aduk berasa karedok dicampur asinan terus ditambah gado-gado. Karena mungkin bawaan pekerjaan gue dari abis subuh tadi, tapi it's okey, kalau dibawa perasaan mah gak kelar-kelar kali ya. Karena yang kedua, gue sudah putus hubungan sama si aa. Banyak pertimbangan yang harus gue putuskan jika seandainya itu terjadi. DAN, pihak kedua menyetujui. Dia tidak berfikir panjang dan ga menanyakan alasan selain gue dilarang pacaran sama orang tua. Yasudahlah, nasi sudah menjadi bubur, ditambah sate usus sama kecap enak. Merasa sedih? Ada. Tapi life must go on. Lalu ada lagi kenapa gue menulis ini. Setelah memberanikan diri memutuskan hubungan itu, fikira...

Dia adalah

Setelah sekian lamanya gue membiarkan blog ini jadi puding, hahaaaakhirnya gue meluangkan waktu buat nulis. Emang ya, kalo udah kebiasaan nulis begini sekalinya ga nulis banyak banget yang mau gue tuang disini, tapi satu-satu lah ya. yang pertama (cailah) gue udah punya gawean, alhamdulillah gue udah kerja. tapi yang jadi hambatan gue bekerja adalah lingkungan kerja gue yang ga sehat (yang udah kerja bisa dibayangkan sendiri), lalu tempat kerja yang sangat sangat sangat jauuuuuuuuuuuuuuuuh (lebay bener) di Cikarang, hiks. niatnya bulan ini mau resign, dengan alasan mau lanjut kuliah tapi masih ragu. alasan gue belum kuat daaaaaaaan, cemen sekali baru 3 bulan kurang 8 hari masa udah mau resign sih. tapi dorongan dari teman-teman di sana juga gapapa kalau gue mau resign juga, disana gue merasa ga berkembang, ga ada karirnya, gitu-itu aja. gajinya juga ga worthit sama capeknya. walaupun gue fresh graduate tapi gue kerja nyari duit juga lah. jadi sekarang gue masih bimbang mau resign ata...

Mungkin

Mencintai dan membenci. Apa yang kau tahu arti dari kedua kata itu? Sebenarnya ada hal yang aku ingin aku utarakan disini. Bahwa mencintai dan membenci itu tidaklah sama, dan juga sama. Maksudnya? Baik, akan aku jelaskan. Mencintai itu artinya, kamu memberikan apa yang kau punya kepada orang yang kamu cintai, termasuk waktu, bahkan diri kamu sendiri, sampai kau lupa apa itu cinta, memberi tanpa perlu diminta, mengikhlaskan dia menjadi milik orang lain, karena dia bahagia, dengan kau cukup mencintainya. Tak peduli perasaanmu itu menjadi sakit atau diabaikan olehnya, kamu hidup sendiri atau dengan kenangan yang pernah kau lakukan bersamanya. Kau merasa cukup. Sedangkan membenci? Kalau dipikir lagi memang tak ada bedanya, yang membedakan hanya saja membenci itu kau mempunyai kenangan yang buruk tentangnya dan kau tidak bisa menerima kenapa hal itu bisa terjadi, sampai kau terus bertanya-tanya, semakin dalam kau terjebak dengan perasaan bencimu itu. Menyerah karena jawabannya belum ka...