Postingan

-+

gue rasa semakin bertambahnya umur, bukan masalah sih namanya. tepatnya tingkat ujian di sekolah kehidupan makin berat. semua campur aduk disini. dalam diri gue semua bisa dirasain. seneng, sedih, kesel, marah, nangis, semuanya gue pernah rasain. yang gue tau gue cuma bisa ngejalaninnya aja. sikut sana sikut sini, under pressure dari lingkungan, ga terasa udah 20 tahun gue hidup di dunia ini. pelajaran apa yang gue ambil selama ini? bukannya gak percaya sama orang lain. percaya sama diri sendiri aja belum tentu bisa, gimana mau kasih kepercayaan ke orang? atau trauma dengan kejadian pahit lalu? mungkin. jaman sekarang kalo mau ngomong harus tau sama siapa. wataknya kayak gimana. jangan asal ceplas ceplos. perkara panjang nanti. lebih baik diem. cintai diri lo sendiri. gak usah bergantung ke orang lain. mereka juga punya kehidupan sendiri. indivualis sih, tapi mau gimana lagi, ada yang mau gak kehidupannya diganggu sama orang yang ga penting? gak usah mikir punya masalah banyak....

Dongeng

Musik di istana megah mengiringi sang putri yang cantik jelita dan beberapa bangsawan dari negeri seberang yang berdansa dengan ceria. Tak terasa sampai lelah ia segera meminum anggurnya dipinggir pesta. Seketika ia duduk, datanglah pemuda dengan gagah berani menghampirinya. Dengan muka memerah semerah anggur yang diminumnya, sang putri diajaknya berdansa. Tanpa ragu ia berdiri dan menerima tawaran sang pemuda yang luar biasa tampan itu. Alunan musik yang merdu dan menggema diseluruh kerajaan membuat sang putri sangat bahagia saat itu. Sang putri bertanya, “Siapa tuan dan darimana asalnya?” dan pemuda tampan itu tersenyum dan menjawab, “Aku adalah pria dari dunia lain yang akan hidup dengan putri sampai kita menua dan mati nanti.” Jawaban itu membuat sang putri senang sekaligus bingung. Maksud dunia lain itu apa? Sang putri ingin bertanya namun terpesona oleh ketampanan dan kelembutan hati pemuda tersebut. Sampai tengah malam pesta itu belum berakhir, hanya beberapa pasangan yang ...

Silent

Banyak diam, banyak pula pemikiran. Hal itu benar terjadi pada diriku sendiri. Aku yang memilih diam, tapi banyak hal yang menghantui dan terus membayangi dalam hidupku, entah itu tentang masa lalu atau tentang hal yang-tak-akan-mungkin-terjadi. Aku memang tak berdaya, hanya dihantui pemikiran yang-tak-akan-mungkin-terjadi dan masa lalu yang masih betah tinggal. Oh, seandainya aku punya kekuatan bisa menghapus masa lalu yang tak-ingin-aku-ingat-lagi. Pasti sekarang aku sedang tertawa bahagia disini. Ketidaksadaran yang selalu menang diantara kesadaran pada diriku sendiri membuat aku memang lebih memilih untuk diam, karena aku lebih yakin dengan diam semua kesedihan maupun kesakitan yang pernah aku (pura-pura) rasakan tidak akan diketahui oleh siapapun. Lebih baik dibandingkan logika yang bermain dalam dramaku ini. Yang aku butuh cuma kesadaran yang sampai saat ini belum muncul. Jadi, aku hanya bisa diam. Sampai kesadaranku muncul. Entah harus menunggu setahun, dua tahun, bahkan s...

Never Cry Again

I saw you, again I knew just, Where you'd be. I stop this real soon, When you 're back. Safe with me. When you come home, I'll stop this. When you come home, I'll hide it good. I'll never cry again. When you come home. To me. In picture, I'd see you weren't really there. In truth, I still feel it. Hanging in the air.

HOPE

Udah berapa minggu ya gue gak posting, haha. Karena berbagai alasan gue gak sempet merangkai kata-kata untuk postingan selama beberapa minggu ini. Terlalu cepat hampir 2 minggu kita lewatin di 2014 ini ya? Whoa. Jujur gue terlalu mainstream tahun 2014 punya resolusi, tapi itu important things juga sih. Kenapa? Mungkin sebagian banyak orang berharap tahun yang akan datang jauh lebih baik lagi dari tahun sebelumnya. Bagi gue juga penting, karena gue bisa evaluasi apa yang udah gue lakukan selama 1 tahun kebelakang dan apa yang harus gue lakukan kedepannya. Resolusinya? Gak jauh-jauh deh, berharap lebih baik dari tahun sebelumnya. Aduh tadi mau ngomongin apa ya gue, oh ya tentang harapan. Sempat ada dipikiran gue kalau harapan itu cuma angin yang berlalu dan terlupakan. Disisi lain gue juga berpikir harapan yang gue tanam selama ini pasti akan membuahkan hasil, entah kapan pastinya suatu saat nanti. Antara sisi satu dan lainnya berlawanan, namanya juga manusia. Lalu apa yang gue harap...

Pulang

Pulang. Apa yang ada dipikiran kalian ketika mendengar kata ‘pulang’? Satu kata ajaib. Pulang. Sejauh apapun kita pergi, selama apapun kita mengembara, pulang adalah jawabannya. Pulang membawa cerita, dimana suka ataupun duka. Jalan kembali ketika kita telah melewati segala macam ‘jalan’ yang diberikan oleh Sang Pemilik. Jalan dimana semua usaha yang telah kita raih, entah memperoleh keberhasilan ataupun menjadi pecundang. Ada kekuatan yang tersimpan dari kata ‘pulang’ yang gue sering gue rasakan selama ini. Rumah. Tempat berpaling dari semua ancaman, baik ancaman fisik atau ancaman jiwa. Menurut gue rumah adalah tempat paling nyaman diseluruh dunia, gak ada tempat lagi yang nyaman selain rumah. Sejelek apapun rumah, sesempit apapun rumah itu pasti nyaman. Kenapa? Karena gak ada lagi tempat  untuk berlindung dari ancaman jiwa. Ancaman jiwa disini maksudnya seperti keadaan dimana jiwa lo merasa gak nyaman, dihina, difitnah, gak disukai, beradu ego, dan semacamnya. Rumah ada...

Change

Sekarang gue sedang menjalani semester 3 perkuliahan. Semakin kesini mental dan fisik gue semakin diuji. Bahkan sifat gue yang dulu gak muncul di SMA sekarang keliatan. Gue sekarang jadi suka emosi, gak sabar dalam menghadapi apapun (termasuk temen gue sendiri). Jujur ini bukan pengaruh karena gue lagi PMS, melainkan pengaruh pressure dari luar, dan gue terlalu peka dalam hal ini. Marah-marah, nangis bahkan sampai nyindir orang yang gue anggep salah (dalam hal ini gue baru tau kalo gue memang orangnya terbuka kecuali dengan orang yang gak mau jujur sama dirinya sendiri, istilahnya biar dia sadar diri. Gue gak mau gue mencari masalah dengan orang lain, apalagi sampai dia gue cap melakukan kesalahan atau yang lebih parah lagi gue fitnah, gue masih manusiawi. Gue memilih diam, tapi rasanya itu masih belum bisa gue pegang kendali, ujung-ujungnya nusuk dari belakang. Tapi tetep, gue masih manusiawi, gue tetep diam dan gak membicarakan itu ke semua orang yang gue anggep temen itu, semuanya ...